belajar forex untuk pemula
wanita | pelacur | wanita panggilan | memikat wanita | cara memikat wanita | tips memikat wanita | wanita penghibur panggilan | memikat hati wanita | doa memikat wanita | wanita tuna susila | kata memikat wanita | wanita panggilan bandung | wanita panggilan surabaya | wanita malam panggilan | trik memikat wanita | ajian memikat wanita | tip memikat wanita | ilmu memikat wanita | iklan wanita panggilan | harga wanita panggilan | wanita panggilan online | cerita wanita panggilan | ayat memikat wanita | panggilan wanita bali | wanita panggilan bogor |
Facebook

Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran – Sofan Amri, Spd – Ahmad Jauhari, S.Pd – Tatik Eliza, S.Pd

Judul: Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran
Penulis: Sofan Amri, Spd – Ahmad Jauhari, S.Pd – Tatik Eliza, S.Pd
Terbit: Nopember, 2011
ISBN: 978-602-8963-55-8
Dimensi: 16 x 24 cm
Tebal: x + 262 = 273 hal
Harga: Rp 40.000,00

Implementasi Pendidikan Karakter

Implementasi Pendidikan Karakter

Implementasi Pendidikan Karakter

KUTIPAN ISI BUKU:

Implementasi Pendidikan Karakter

BAB 1: PENTINGNYA KONSEP DIRI

Implementasi Pendidikan Karakter

Salah satu penentu keberhasilan perkembangan adalah konsep diri. Kali ini kami akan menjabarkan pentingnya konsep diri dalam kehidupan. Sebelumnya, apa konsep diri itu? Jenis-jenis Konsep Diri itu apa saja?

Konsep diri (self concept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi konsep diri sehingga terdapat beberapa pengertian. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang, pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Seseorang kerap pesimis merasa ia tidak mempunyai kemampuan padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan seseorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah untuk diselesaikan. Konsep diri terbentuk dan dapat berubah karena interaksi dengan lingkungannya.

2. PENGERTIAN KONSEP DIRI

Banyak ahli merumuskan definisi konsep diri. Menurut Burns (1993:6), konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan dan pendapat orang lain mengenai diri kita. Konsep diri adalah pandangan mengenai siapa diri kita dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat orang lain tentang diri kita (Mulyana, 2000:7). Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki seseorang dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian atau evaluasi orang lain mengenai diri orang tersebut. Individu akan mengetahui bahwa dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya. Sebaliknya, individu akan tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung, individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.

Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya. Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.

Menurut William D. Brooks, pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan, konsep diri tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri kita sendiri dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan.

Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:97). Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya, jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja sudah mempersiapkan pintu kegagalan bagi dirinya. Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik maupun lingkungan terdekatnya.

3. KARAKTER MENURUT DEPDIKNAS

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitude), perilaku (behavior), motivasi (motivation) dan keterampilan (skill). Karakter berasal dari kata Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika dan perilaku). Individu yang berkarakter baik atau unggul secara tegas adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal terbaik bagi Tuhan, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai kesadaran, emosi dan motivasinya.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter.

Lebih lanjut dijelaskan, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi dan berbagai hal terkait lainnya. Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu yang banyak dipengaruhi budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri dalam rangka membina kepribadian generasi muda.

Pendidikan karakter berpijak pada karakter dasar manusia yang bersumber dari nilai moral universal (sifatnya absolut) yang bersumber pada nilai-nilai agama yang dianggap sebagai the golden rule. Pendidikan karakter dapat memiliki tujuan pasti apabila berpijak pada nilai-nilai karakter dasar tersebut. Menurut para ahli psikologi, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam seisinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai dan cinta persatuan. Pendapat lain mengatakan bahwa karakter dasar manusia terdiri dari: dapat dipercaya, rasa hormat dan perhatian, peduli, jujur, tanggung jawab; kewarganegaraan, ketulusan, berani, tekun, disiplin, visioner, adil dan punya integritas. Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus berpijak kepada nilai-nilai karakter dasar yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (yang bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti tawuran massal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di beberapa kota besar, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam membentuk kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Para pakar pendidikan umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan-perbedaan pendapat di antara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan, sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di banyak negara Eropa/Barat seperti: pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai dan pendekatan klarifikasi nilai. Yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didiknya.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial-kultural, pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah dan masyarakat) yang berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and Emotional Development), Olah Pikir (Intellectual Development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and Kinestetic Development) dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity Development) yang secara diagramatik digambarkan sebagai berikut:

Implementasi Pendidikan Karakter

Para pakar telah mengemukakan berbagai teori tentang pendidikan moral. Menurut Hersh (1980), ada lima pendekatan yang digunakan yaitu:

a. Pendekatan pengembangan rasional,
b. Pendekatan pertimbangan,
c. Pendekatan klarifikasi nilai,
d. Pendekatan pengembangan moral kognitif,
e. Pendekatan perilaku sosial

Berbeda dengan klasifikasi tersebut, Elias (1989) mengklasifikasikan berbagai teori yang berkembang menjadi tiga, yakni: pendekatan kognitif, pendekatan afektif dan pendekatan perilaku. Klasifikasi didasarkan pada tiga unsur moralitas yang biasa menjadi tumpuan kajian psikologi yakni: perilaku, kognisi dan afeksi.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat ditegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

4. SEKOLAH PENYEBAR VIRUS POSITIF KARAKTER

Sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi memiliki peran penting sebagai agen penyebar virus positif terhadap karakter dan budaya bangsa. Tidak ada yang menolak tentang pentingnya karakter dan budaya, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana menyusun dan mensistemasikan sehingga anak-anak mampu lebih berkarakter dan berbudaya.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Hotel Bumikarsa Bidakara, Jakarta, Kamis (14/1/2010). Pada acara yang dipandu Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal, menghadirkan pembicara utama Mantan Mendiknas Yahya Muhaimin, Budayawan Frans Magnis Suseno, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Abdullah Syukri Zarkasyi. Mendiknas menyampaikan beberapa kebiasaan atau budaya yang perlu ditumbuhkembangkan, diantaranya budaya apresiasif konstruktif. Menurut Mendiknas, siapa pun yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungannya sangat perlu diberikan apresiasi. “Kebiasaan memberikan apresiasi akan membangun lingkungan bagi tumbuh suburnya orang-orang berprestasi. Kalau lingkungan sendiri tidak mendukung orang-orang berprestasi, maka lingkungan hanya menuai kemerosotan.

Budaya berikutnya yang perlu dikembangkan kata Mendiknas, adalah obyektif komprehensif. Mendiknas berpendapat, perlu mentradisikan melihat segala sesuatu harus secara utuh. Budaya berikutnya yang perlu dikembangkan adalah rasa penasaran intelektual atau intellectual curiosity dan kesediaan untuk belajar dari orang lain.

Kepada para peserta sarasehan, Mendiknas meminta agar dikembangkan model-model pembelajaran yang menjadikan anak tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga dapat mengetahui, mengingat dan memahami yang diingatnya. Selain itu, Mendiknas juga meminta agar membangun karakter dan budaya bangsa secara sistematik. “Budaya itu pun bisa direkayasa dalam makna positif. Tolong dibahas bagaimana rekayasa untuk mensistematiskan pengembangan budaya agar jelas tahapannya”. Pengembangan karakter bangsa lebih ditekankan kepada kegiatan internalisasi atau penghayatan dan pembentukan tingkah laku. Setiap sekolah diwajibkan mempunyai statuta yang di dalamnya dicantumkan secara eksplisit dan jelas tentang pengembangan karakter di sekolah tersebut. “Jadi bukan dalam kurikulum, tetapi terutama dalam program!”. Setiap sekolah mencantumkan nilai-nilai dasar atau yang merupakan ciri khas karakter bangsa Indonesia yang bersumber pada nilai-nilai agama maupun nilai-nilai kenegaraan, patriotisme dan nasionalisme. “Nilai-nilai dasar tersebut misalnya jujur, dapat dipercaya, amanah, kebersamaan, peduli kepada orang lain, adil dan demokratis.

Orang yang mempunyai karakter adalah orang yang mempunyai keyakinan dan sikap. Dia bertindak menurut keyakinan dan sikapnya itu. Keyakinan itu termasuk kejujuran dasar, kesetiaan terhadap dirinya sendiri dan perasaan spontan bahwa ia mempunyai harga diri dan bahwa harga diri itu akan turun apabila ia menjual dirinya. “Ia tahu apa itu tanggung jawab dan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia bukan ‘orang bendera’ yang selalu mengikuti arah angin. Ia bisa saja fleksibel, tawar menawar, mau belajar dan berkembang dalam pandangannya.

Feodalisme pendidikan selama ini jelas-jelas tidak memungkinkan karakter anak-anak didiknya berkembang semestinya. Jika pendidik membuat anak menjadi ‘manutan’ dengan nilai-nilai penting, tenggang rasa dan tidak membantah maka karakter anak tidak akan berkembang. “Kalau kita mengharapkan karakter, anak harus diberi semangat dan didukung agar menjadi pemberani, berani berinisiatif, berani mengusulkan alternatif dan berani berpendapat yang berbeda. Anak harus diajarkan berpikir sendiri.

Related terms: Pendidikan Karakter Anak, Pendidikan Karakter Bangsa, Pendidikan Karakter Di Sekolah, Tema Hardiknas, Pengertian Implementasi, Arti Implementasi, Maksud Implementasi, Implementasi Wawasan Nusantara


One Response to “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran – Sofan Amri, Spd – Ahmad Jauhari, S.Pd – Tatik Eliza, S.Pd”

  1. [...] Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran – Sofan Amri, Spd – Ahmad Jauhari, S… [...]

Copyright 2010 (c) PrestasiPustakaRaya.com | Hak Cipta Dilindungi Undang-undang